Bullying

aaa8fb59e3126de57dde669e08f0cad9

Pinterest

Beberapa hari belakangan ini, bullying rame banget muncul di timeline. Rame juga jadi topik hangat diperbincangkan di setiap kesempatan. Belakangan, beredar video tentang bullying dan pelauknya adalah siswa/mahasiswa yang notabene adalah kaum terpelajar. Saya sendiri sudah melihatnya.

Seorang anak yang di bully sama teman 1 sekolahnya, samapi di jambak, tersungkur dan lebih parahnya lagi, si korban mesti sungkem sama pelaku. Sembah sujud segala macem. Gila gak tuh.

Video yang satu lagi, tentang pem-bully-an terhadap seorang anak yang punya kebutuhan khusus oleh sesama teman mahasiswanya. Diledek dan juga diganggu saat sedang berjalan.

Miris. Kejam banget kan. Sedih banget gak sih? Coba kalau korban tersebut adalah orang-orang terdekat kita, anak kita, keponakan, sepupu, adik atau kakak kita sendiri. Pasti gak bakal terima sama perlakuan seperi itu. Saya sendiri gak sanggup membayangkannya.

Sebenarnya kasus bullying sendiri bukanlah kasus baru. Banyak beredar kabar, mahasiswa atau siswa yang meninggal di tangan seniornya. Bayangkan sampai meninggal. Udah luar biasa kelewat batas sampai menimbulkan korban jiwa.

 Gak usah jauh-jauh, mungkin dari kita sendiri atau lingkungan terdekat ada yang pernah menjadi korban bully di sekolah. Jaman jadi siswa/mahasiswa baru. Senioritas dan kepopuleran di sekolah/kampus sangat kentara. Kalau berani menatap mata senior dianggap menantang. Kalo ada cewek ditaksir sama senior , udah pasti deh bakal di bully sama senior cewek. Kalau kita gak sopan sama senior, udah pasti bakal jadi korban berikutnya (padahal sih gak ngerti juga letak gak sopannya di mana).

Atau mungkin kita sendiri yang berada di pihak si pembully. Terkadang tanpa kita sadari, sering bercanda kelewatan ke teman, “ngata-ngatain fisk atau penampilan.” Nyeletuk suka lepas kontrol karena liat orang pakai baju gak nyambung yang dibilang aneh. Atau mungkin pernah juga bilang kek gini : “itu anak kayak orang autis aja kalau sudah mainan HP.”  Memanggil seseorang dengan nyebutin fisik, seperti si Item, si keriting, si gendut, si kacamata, si botak, dll. Kadang suka berkelakuan kasar sama adik atau anak sendiri atau bahkan ke orang lain dengan memberikan ancaman. Tanpa disadari juga, mungkin saja perilaku tadi membuat mereka tersinggung atau berkecil hati. Sakit hati juga bisa jadi. Kadang dianggap sepele tapi hal-hal yang menyakitkan seperti itu juga bisa merusak pertemanan dan mamancing perkelahian. Dampak psikologis lah yang paling berat. Trauma dan menjadi pribadi yang kurang percaya diri.

Lebih parah lagi, kasus cyber bullying. Dimana seseorang di bully lewat media sosial. Coba deh, malah kadang menganggap semua itu sekedar hiburan, hanya bercanda. Tapi apa yang diderita oleh si korban bully. Malu sudah pasti. Sakit hati karena di olok-olok. Bahkan ada yang sampai bunuh diri karena sudah gak kuat di bully terus. Masih tega ya menjadikan bullying sebagai hiburan? Apalagi sekarang, banyak siaran TV lokal yang isinya banyak mengandung bullying juga. Acara yang gak jelas konsepnya apa. Durasinya panjang. Adegan membully sesama pengisi acara dianggap keren dan lucu. Saling membalas lelucon kasar bahkan melampaui batas. Kadang yang konsep acara seperti itu justru bagus rating penyiarannya. Sangat menyedihkan.

See? Bullying gak cuman melulu sekedar melakukan tindakan kasar secara fisik ke orang lain tapi juga bisa berbicara kasar atau bercanda kelewatan, yang notabene melukai hati seseorang. Merasa lebih jago, merasa lebih kuat, merasa lebih cantik, lebih ganteng, lebih OK, lebih senior, lebih kaya dari orang lain mungkin bisa jadi penyebab terjadinya bullying.

Bullying adalah tentang kondisi dimana kita merasa mendapatkan kepercayaan diri, merasa meningkat harga dirinya, dengan merendahkan posisi orang lain dan itu sangat gak baik. Ingat, kita juga pasti mau kan selalu dihargai?

ac9b04affd6c1c1c19c8d30fb6f068b5

pinterest

Yuk kita sama-sama belajar menghargai sesama. Karena mereka juga sama seperti kita. Siapa sih yang mau jadi korban bullying? Pasti gak mau kan. So, be kind and stop bullying Let’s respect others.

Cheers,

-elita-

 

Advertisements

23 comments

  1. Syukurlah dalam kehidupan saya nggak pernah liat atau ngalamin bullying. Soalnya saya sendiri berhati-hati dalam bergaul sehingga nggak terlibat hal-hal negatif.,bahkan di medsos pun aman saja karena saya orangnya kurang aktif. Tapi di grup2 bloger sering bercanda atau membully bloger yg maaf kelewatan “bodohnya” tapi sok tahu.

    Like

  2. Aku dulu korban bully, tapi pernah jadi pembully juga dan saya amat sangat tidak bangga mengakuinya. Meskipun bully-an yg ku lakukan itu sebatas ngeledekin teman, tapi setelah tambah tua, aku tau dampaknya mungkin besar sama teman ku itu. i am so sorry for that.
    Dulu aku juga korban bully, yah, jadi objek bercandaan dan hinaan beberapa orang, sepele kelihatannya tapi percayalah it takes so much time untuk berdamai dengan diri sendiri..jadi sedih ingetnya..
    Semoga semakin hilang bully membully ini dari muka bumi.

    Liked by 1 person

  3. Eeeerr…..aku pernah dibully, lebih ke arah fisik sih. Krn aku item dan ga good looking. Sangat ngaruh ke kepercayaan diri.

    Skrg, kalo misal ada orang yg memperlakukanku dgn tidak baik, menurut standarku ya, misal : dia maksudnya bercanda tapi jatuhnya jadi mengolok olok dan aku merasa ga nyaman, ya udah aku lsg speak up aja.

    Like

  4. Iya bener. Bullying ada di mana-mana dan pelakunya tuh makin muda usianya. Apa terlalu banyaknya populasi juga jadi salah satu pemicunya ya? Semua harus dituntut sempurna. Terlalu banyak populasi jd dunia semakin kompetitif. (yg kelihatan di dunia nyata, maupun dunia maya dengan medsosnya)..
    Anak-anak ini pun mencontoh apa yg dilakukan org dewasa di sekitarnya, krn ya gimana lagi, mereka membully… ribuan warganet jg membully balik dan bahkan diskors kan? Apa kita nggak sama ya dgn mereka, pdh mungkin mereka bisa dibimbing dengan sanksi sosial.. ngosek wc stasiun, jadi perawat di panti jompo misalnya.. misaaaalnyaaaa.. (ih, aku berusaha bijak kali ya mba El hihih)

    Like

    • Bener itu mba dew.. Gak usah anak sekolahan deh. Sedari kecil aja kadang anak2 sampai dipukul atau di dorong sama temannya. Padahal gak salah apa2 loh. Contohnya anakku sendiri yang tiba2 dipukul ssama anak lain sewaktu di playground sampai nangis. Mungkin memang anak2 blm ngerti tapi koq aku melihat ada sifat arogansi yang mulai berakar disana. Sifat kyk gitu mungkin jg bisa jadi bibit2 bullying. Ya tapi semoga aja nggak. Ya kan..

      Like

  5. Mungkin yang sekarang jadi perhatian saya cyberbullying itu kak. Orang2 sudah lepas kendali di internet ini. Tanpa memikirkan konsekuensinya, banyak yang serampangan sekali memberi komentar menjatuhkan ke orang lain. Sama sekali tidak mempertimbangkan jika mereka mendapatkan komentar seperti itu. Moga dengan tulisan2 seperti ini banyak orang yang berpikir sebelum memberi komentar

    Liked by 1 person


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s