Lima Tahun Pernikahan

good-25th-anniversary-gift_93cf01c1c47c4597-1

credit : reference.com

Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. (KOLOSE 3 : 14 – 15) 

 

By the way, Selamat Ulang Tahun pernikahan yang ke-5 ya Papa Alom.

Ga terasa banget memang ya, taunya udah 5 tahun aja usia pernikahan kami. Hampir setiap hari dilalui bareng-bareng, ya gimana nggak kan, kita berdua kerja masih di satu gedung kantor yang sama, beda divisi memang. Pergi dan hampir setiap malam pulang bareng. Cuma misah aja pas makan siang, karena kita emang punya geng sendiri, hihihi.

Emang gak bosan yah? Mungkin banyak yang tanya gitu. Boo, gimana mau bosan. Kita komitmen buat hidup bersama, ya sehari-hari bersama-sama juga, emang bisa gitu gonta ganti pasangan? *knock knock knock* Hari ini mau sama si ini, mau sama si itu. Ya gak bisa kan.

Pernikahan kan bukan kayak sepatu atau baju yang kalau kita bosan pakainya, kita bisa beli yang baru lagi, ganti lagi model yang lagi in atau kalau sudah usang boleh kita buang. Nope, bukan seperti itu. Ini adalah janji dan komitmen kita di depan Tuhan dan juga di depan jemaat 5 tahun yang lalu untuk saling menghargai, mengasihi dan mencintai pasangan. Saling mendoakan dan saling menopang.

Lima tahun memang masih tergolong baru. Masih piyik. Masih teringat pesan orang tua saat kami akan memutuskan untuk membangun bahtera rumah tangga. Dimana usia 5 tahun pertama adalah saat-saat penuh untuk belajar, pengenalan akan pasangan masing-masing. Bohong kalau gak ada kerikil, gak ada cekcok, tapi justru itu yang akan membentuk karakter kita. Saling mengerti tabiat masing-masing. Mengenal dan beradaptasi dengan keluarga dari pasangan. Mengerti kekurangan dan kelebihan measing. Karena kekurangannya bisa menjadi kelebihan saya dalam hal pembentukan karakter. Seumpama nih ya, pak Suami sedang gak mood, marah-marah gak jelas, toh itu merupakan PR untuk saya gimana caranya supaya marah-marahnya itu gak berujung panjang. Kelak akan menjadi kelebihan saya kan dalam hal karakter menangani suami supaya tidak marah berkepanjangan. Begitu juga sebaliknya.

Dua pribadi yang berbeda yang harus dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Gak mudah memang tapi disitulah kita dituntut untuk saling mengerti pasangan kita. Si papa Alom yang hobby masak, kadang kita berantem kecil loh gara-gara berebutan dapur. Hihi, lucu yah. Banyakan sih saya yang mengalah kalau udah gitu. Betewe kalau udah mau natal, doi loh yang sibuk mikirin mau bikin kue apa yah. Ntar dia bisa baking deh sampai pagi. Nah saya yang kedapetan tugas nemenin, cukup nemenin, dilarang ikutan pegang-pegang baking tools-nya.

Semoga Tuhan yang senantiasa menjadi kepala di rumah tangga kami, senantiasa memberkati dan menyelimuti keluarga kecil kami dengan kasihNya. Semoga papa Alom juga sehat selalu, sehingga bisa tetap berkarya dan melihat perkembangan Alom sampai dia dewasa kelak. Semoga kasih dan damai sejahtera yang selalu membungkus keluarga kami sehingga kami boleh tetap saling mengasihi dan mencintai sampai tua nanti. Amin.

^cheers^

-Els-

Advertisements

6 comments


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s