Hal Mengampuni

Kemarin sore, seorang teman kantor saya bercerita kalau dia baru nyaris kecopetan saat naik angkutan umum saat pulang kantor. Jadi kejadiannya kira-kira begini. Saat itu, saat pulang kerja menuju rumah, si teman baru saja membalas SMS dan masukin HP kembali ke dalam tas nya. Dekat dengan duduknya ada seorang pemuda yang minta tolong dibukakan kaca mobil, si teman saya ini membantunya untuk membukakan kaca jendela angkot, tak lama dari itu, si pemuda tadi menstop angkot untuk turun. Sesaat si pemuda turun, teman saya ada firasat gak enak. Benar saja, ternyata HP nya sudah gak ada, dan dia langsung bilang ke supir angkot untuk memberhentikan angkotnya karena HP nya sudah dicopet oleh si pemuda yang barusan saja turun. Dia lari ke arah pemuda tadi yang sudah ada di sebrang jalan dan nyaris ketabrak mobil juga. Si pemuda sempat berbohong kalau itu HP dia boleh nemu. Teman saya marah minta HP nya dikembalikan. Singkat cerita, massa juga sudah berkerumun, siap-siap menghakimi si pemuda yang ternyata adalah copet (berhubung teman saya tadi berteriak copet  kearah pemuda itu). Nyaris saja si pemuda dipukuli massa. Si pencopet minta maaf dan mohon-mohon supaya jangan dibawa ke kantor polisi dia bialng anaknya juga masih kecil. Teman saya tadi gak tega dan dia menarik si pemuda ke arah yang aman (sepi) supaya tidak dipukulin massa, karena massa juga sudah sempat emosi dengan ulah si pencopet. Diantarnya copet tadi ke arah angkot dan diberi nya duit, pikirnya teman saya tadi, kasian anak istrinya kalau dia sampai digebukin dan dimasukkan ke kantor polisi. Cara dia cari duit itu salah. Jempol untuk teman saya tadi, karena disaat HP nya dicopet dan si pencopet nyaris dipukuli massa, dia malah menarik si pencopet, mengantarnya ke angkot dan memberinya uang. Dia mengampuni si pencopet. Huuff, sungguh, kalau saya di posisi dia, mungkin saya gak kepikiran atau gak bisa seperti itu karena tentu saja, saya marah, kesal dan pasti benci dengan apa yang sudah dia lakukan kepada saya.

Dua atau tiga tahun lalu, sempat ramai juga di berita nasional, seorang mahasiswa putri yang meninggal karena dibunuh oleh mantan pacarnya. Akhirnya yang saya tau, si pembunuh, mantan pacar dan juga pacarnya, terbukti melakukan pembunuhan dan mereka dijatuhi hukuman yang sesuai dengan perbuatan mereka. Ada satu yang menarik perhatian saya di kasus ini, yaitu begitu besarnya hati sang ibu korban, yang mengampuni perbuatan pembunuh anaknya. Anak satu-satunya. Sungguh luar biasa, menurut saya. Dia mengampuni orang yang membunuh anak satu-satunya itu. Sang ibu pun sampai menjenguk si pembunuh ke sel tahanan. Gak kebayang deh saya, saat buah hati satu-satunya pergi secara tidak wajar dan justru di saat yang sama saya mengampuni orang yang melakukan pembunuhan. Sangat berbanding terbalik dengan kasus serupa yang sekarang sedang ramai dibahas di media. Tapi saya gak mau bahas itu disini, hehehe..

Mungkin akan sulit bagi saya kalau saya ada di posisi kedua orang yang saya ceritakan di atas. Kuncinya adalah mengampuni. Mengampuni dan memaafkan. Dua hal yang sangat sulit dilakukan secara bersamaan kala kita berada di posisi dimana kita yang menjadi korban. Entah korban perasaan, korban kejahatan, korban keserakahan, korban penipuan. Kalau ada orang yang menyakiti hati kita dan minta maaf, mungkin kita akan bilang ya, saya memaafkan kamu, tapi  terkadang ada rasa dendam atau marah yang belum beres di kemudian hari. Seperti saya yang berkata dalam hati, ih si dia kan dulu pernah giniin gw. Ya semacam itu contohnya. Liat waktu deh, ntar juga luka hati itu bisa sembuh seiring dengan waktu. Atau bahkan bisa saja bilang gini: liat aja nanti bakal jadi apa kalau dia sampai nyakitin gw. Kedengaran seperti marah dan dendam yah.

Secara gak sadar mungkin kita juga pernah menyakiti perasaan seseorang lewat perkataan dan perbuatan kita. Sayangnya kebanyakan kita tidak menyadari hal tersebut. Terkadang kita hanya berfokus kalau kita ini adalah korban.

Seperti yang saya imani dan sesuai dengan pict diatas, yang merupakan penggalan dari salah satu ayat di Alkitab, yang isinya meminta supaya Tuhan mengampuni setiap dosa kita, seperti kita juga mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Kebayang gak, kalau kita gak bisa mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita, tapi kita minta pengampunan kepada Sang Maha Pencipta. Gak make sense memang. Tapi ya itulah, begitu indahnya jika setiap kesalah kita juga diampuni, bukan? Jadi kita juga harus sama-sama belajar mengampuni. Terdengar sulit tapi gak ada salahnya kalau kita juga belajar mengampuni.

^cheers^

Advertisements

14 comments

  1. Terima kasih untuk tulisan pengingat ini. Masih PR juga buatku. Kalau memaafkan mungkin buatku lebih gampang daripada melupakan. Tapi kalau memaafkan namun belum bisa melupakan, namanya belum ikhlas ya. Masih harus banyak belajar.

    Like

  2. ah iyaaaa si Ibu ituuu.. aku ingat banget kata-katanya “krn di ajaran agama saya, kita harus memafkan” semacam itulah aku lupa..

    terus aku merasa sedih, knapa banyak sekali org2 yg lebih agamis (di agama aku) malah menebarkan kebencian yaa..

    oke, udah ngelantur..

    nice post, mba Elitaaaa..

    Like

  3. El, thank you postingannya ya.. kemarin2 sempet dikecewakan sama seseorang dan aku ngerasa susah banget maafin. Pernah denger nggak sih mengampuni membuat hati kita lapang. Kayaknya itu bener deh

    Liked by 1 person


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s