Si Helm Hijau

Siapa yang belum pernah mencoba transportasi berbasis online yang sedang marak belakangan ini? Sebagian besar penduduk Jakarta mungkin adalah konsumen dari transportasi berbasis online. Saya salah satu dari mereka. Dalam hal ini, saya lebih sering memakai jasa ojek online ketimbang taxi online. Pernah beberapa kali order taxi online, itu pun hanya dalam keadaan mendesak sewaktu kendaraan kami gak bisa dipakai sementara si Alom harus periksa ke dokter. Jadi mau gak mau pilihannya adalah order taxi online. Cukup membantu.

Beberapa kali, saya order taxi online, tapi belakangan sudah sangat jarang. Pengalaman memakai jasa taxi online pun macam-macam. Pernah sekali, seorang driver taxi memberikan service yang sangat mengecewakan. Mengendarai dengan sangat tidak tertib dan ugal-ugalan. Biasanya, setelah sampai di tujuan, penumpang memberikan rate sebagai feed back atas pelayanan yang baru saja diberikan. Gak tanggung-tanggung, pak Suami gak memberikan bintang, dan menulis komentar di kolom “add comment” kalau driver sangat mengecewakan, mengemudi sangat ugal-ugalan sementara di dalam mobil ada anak kecil yang mau berobat ke rumamh sakit. Gak disangka, keesokan harinya, pak Suami mendapat feed back dari perusahaan taxi online itu, sebagai bentuk permintaan maaf, bla bla blaa…. Semoga gak pernah lagi mengalami kejadian seperti itu deh. Bener bener sport jantung deh.

Nah kalau ngomongin ojek online, saya punya banyak banget pengalaman. Ya karena saya termasuk lumayan sering memakai jasa ojek online ini. Layanan yang ditawarkan juga semakin bervariasi. Mulai dari ojek, layanan antar barang, layanan pijat, bersih-bersih, delivery makanan, dll. Bahkan belakangan bisa juga loh pesan tiket nonton dengan menggunakan jasa mereka. Dari beberapa perusahaan layanan transportasi online ini, saya paling sering order Gojek. Untuk layanan ojek, saya biasa order Β dari kantor ke rumah, atau dari rumah ke kantor. Bermacam-macam tipe driver pernah saya temui. Ada yang senang cerita jadi sepanjang jalanan drivernya ngobrol terus. Seringnya sih saya tanggapin, tapi kalau lagi gak mood atau memang kondisi badan sedang cape, saya lebih pasang “pagar” supaya driver Gojek tau kalau saya sedang tidak mau diajak ngobrol saat itu. Pertanyaan paling sering yang saya tanyakan bisanya “Rumahnya dimana pak?”, atau “Sudah pernah lewat sini pak?” atau “Biasanya bapak ikut base camp yang mana?”Ada yang sepanjang jalan kaku dan diam. Pernah juga dapat pengemudi yang ugal-ugalan. Tapi gak sedikit juga dari mereka yang kasih service yang lumayan memuaskan. Paling senang, saat order gojek dan ketemuan sama tukang ojeknya, motornya bersih, penampilan tukang ojek bersih. Pernah sekali saya dibonceng pakai motor gede dan tukang ojeknya pun keren. Hahaha, gimana nggak, si drivernya ternyata mahasiswa yang nyambi nge-gojek. Tapi sepenglihatan saya, sekarang sudah jarang yang nyambi-nyambi begitu. Rata-rata dari mereka ya memang murni sebagai tukang ojek, bukan cuma sambilan. Saya juga pernah juga pesan makanan (go food) pakai jasa Gojek, cukup memuaskan menurut saya. Restoran yang bekerja sama dengan Gojek juga semakin banyak. Jadi kalau mau beli makanan yang jaraknya lumayan jauh dan gak bisa datanglangsung ke lokasi, bisa deh pesan by Gofood.

Layanan Gosend juga pernah saya coba. Waktu itu, saya baru sadar, kalau karet breast- pump saya ketinggalan di rumah. Bisa berabe dong kalau di kantor gak bisa pumping, dan gak mungkin juga saya ijin pulang ke rumah untuk ngambil karet yang ketinggalan tadi. Otak berputar keras dan teringat jasa layanan Gojek. Setelah berkoordinasi dengan orang rumah, akhirnya si karet breast pump bisa sampai dengan selamat di kantor berkat bantuan si abang tukan Gojek. Mamak senang, Alom pun senang. Ya kan ?

Tadi siang, saya baru aja mencoba memakai layanan jasa Gojek yang lain, yaitu Gomart. Jadi ceritanya saya dan beberapa teman kantor yang juga punya toddler, kompakan pesan susu dan juga diaper dari satu toko susu yang terkenal banget dengan harga yang jauh lebih murah dari tempat lain. Ternyata toko susu gak menerima transferan. Jadi, mereka juga melayani pembelian by gojek tapi nanti si driver nya yang membayar pesanan kami. Gak tanggung-tanggung, total pesanan kami sekitar 1,5juta. Sempat sedikit worry, karena disaat order Gomart, tukang gojek tidak memiliki dana yang cukup untuk membayar pesanan emak-emak rempong di kantor. Kekhawatiran ke-dua tentu saja motornya bisa gak yah membawa orderan yang pastinya gede-gede banget. Bayangkan, pesanan diaper nya sampai 10 kotak. Dan benar saja, 3 orang driver mencancel orderan saya setelah akhirnya ada seorang driver yang menelepon dan mengkonfirmasi pesanan. Gak sampe sejam kemudian, si bapak driver sudah sampai di parkiran kantor. Dan benar, orderan kami sampai 2 kotak besar. Kasian pak gojeknya, dalam hati. Ya tapi memang rejeki dia juga ya, karena saat selesai antar orderan tadi, si bapak Gojek pun kembali mendapat orderan. Siapa yang sangka ya total belanjaan sebanyak 1,5 juta bisa ditalangin si bapak tukang Gojek.

Nah, itu sedikit pengalaman saya bergojek. Secara keseluruhan saya merasa cukup puas dan terbantu dengan layanan yang ditawarkan. Semoga kedepannya pelayanan semakin bisa ditingkatkan dengan menciptakan inovasi-inovasi baru yang lebih membangun. Driver juga harus lebih tertib lagi memakai jalan raya. Ada beberapa dari mereka yang fokus ke HP dibanding fokus ke situasi jalan. Padahal itu dalam kondisi mengemudi loh. Itukan bahaya.

Punya pengalaman yang berkesan selama menggunakan jasa ojek online? Boleh koq share disini.

Cheers (^.^)

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s